Tweet oleh @11304679

Jumat, 05 Februari 2016

kamu

Kamu;
Seseorang yang melengkapi,
pada ruas jemariku,
dan sebuah kehilangan,
pada tulang rusukku.

Kamu;
Sebuah musim selain hujan.
Atau kemarau,
yang mengeringkan basah,
di kedua mataku.

Kamu;
Sebuah pelukan,
yang menghangatkan.
Juga semilir angin,
yang tak menggigilkan.

Tinggallah untuk waktu yang lebih lama.
untuk melengkapi diksi,
dalam setiap bait puisi;
yang kutulis,
dengan air mataku sendiri.

Minggu, 31 Januari 2016

engkau

Mencintaimu;
Aku ingin seperti matahari.
agar dapat ku terangi,
dimanapun engkau berdiri.
Mencintaimu;
aku ingin menjadi hujan,
yang jatuh tepat di atas kepalamu,
agar dapat kusamarkan air mata,
yang jatuh atas nama kesedihanmu.
sebab di hatiku,
engkau ibarat setangkai mawar,
yang akan selalu kujaga,
hingga tertatih menahan luka,
agar engkau,
bisa kumiliki selamanya.

Jika

Jika hidup adalah puisi,
maka pinjamkanlah aku sebuah pena,
biar kutulis namamu,
dalam setiap diksinya.

puisi1

Ada yang diam-diam mencintaimu,
menjelma huruf, melengkapi diksi,
menjadikanmu puisi yang abadi.

Kepergianmu

Kepergianmu;
daundaun maple yang berguguran.
Aku;
ranting yang melepaskan,
hanya mampu menatapmu berserakan.

Selasa, 26 Januari 2016

Rindu

Dari jarak yang jauh,
kuhitung tiap bulu mataku yang jatuh,
dan aku mengerti,
rindumu bukanlah sesuatu,
yang bisa kau sembunyikan,
di balik senyuman.

Yang terpendam

Demi cinta,
aku percaya kau tak buta,
seperti pagi yang tak punya mata,
atau semilir angin,
yang membiarkan waktu,
berlalu begitu saja.

Demi segala yang kulalui,
dengan isyarat-isyarat yang tak bisa kau pahami,
sebagaimana yang tak kau ketahui,
aku hanya bisa bersembunyi,
di balik mataku sendiri,
dari perasaan-perasaan yang kini,
menguburku di dalam sunyi.